SUKACITA DI AKHIR FEBRUARI 2020
Aku ingin sharing dan ga tau harus memulai dari mana. Tapi aku mau mengawali ceritaku dengan bersyukur. Bersyukur masih di berikan nafas kehidupan, kesehatan, tubuh yg sempurna tidak cacat sedikitpun, dan setiap kejadian yg terjadi di hidupku seperti pencapaian maupun kegagalan.
Ya.. Kegagalan. Setiap orang pasti merasakan kegagalan bukan? Terpuruk dalam suatu masalah, bisa membuat kita jadi stres jika terus larut dalam kesedihan akan kegagalan.
Diusiaku yg 22 tahun ini apa aku pernah merasakan nya? Jelas. Mulai bulan 11 tahun 2019 aku tercatat sebagai wisudawan a.k.a pengangguran. Eh, lebih tepat nya bulan 9 tahun 2019 diwaktu aku selesai sidang aku udah bisa dicap sebagai pengangguran baru. Tapi selama dari bulan 9 s/d bulan 12 tahun 2019 aku merasa baik - baik saja dengan status pengangguran karena tekanan dan beban belum datang kepadaku. Maklum aja soalnya masa beradaptasi dari status mahasiswa ke status beban negara.
Tapi semua berubah setelah waktu melewati lembaran baru memasuki tahun cantik yaitu 2020. Di adat ku yaitu batak (mungkin juga di adat lain ada) pasti setiap malam pergantian tahun diadakan ibadah syukur pergantian tahun. Dimana pada akhir setiap acara akan ada namanya 'MANDOK HATA' biasanya banyak anak muda yg menghindari momen ini dengan pura-pura tidur dll. Tapi bagaimanapun alasannya pasti harus tetap melakukan mandok hata. Mandok hata adalah kesan dan pesan dari tahun yg lalu ke tahun berikutnya, apa yg mau diubah, semua diceritakan dalam momen tersebut. Biasanya momen itu dimulai dari anggota yg paling kecil dan ditutup oleh yg paling tua dalan keluarga.
Disaat itu lah tekanan mulai berdatangan kepadaku. Ya, aku diceramahi tentang masalah pekerjaan. Inilah tekanan pertama yg kurasakan yg membuat aku sadar aku memang sudah harus bisa mandiri, harus bisa membiayai diri ku sendiri, ga boleh membebani orangtua lagi.
Mulai bulan 11 setelah wisuda aku memang udah mulai untuk mencari kerja, tapi hatiku masih belum sepenuhnya ingin bekerja. Maka dari itu setiap tes, interview, psikotest dll itu aku lakukan dengan setengah hati sehingga tidak mempersiapkannya dengan matang. Tapi diawal tahun 2020 aku tersadar aku udah bukan mahasiswa lagi, aku harus bisa jalan sendiri dengan keputusan ku, hidup dengan kemampuan yg aku punya. Maka aku pun mulai sungguh-sungguh untuk mencari pekerjaan.
Setiap aplikasi lowongan pekerjaan aku instal, lowongan di instagram aku follow, kaka tingkat aku hubungi untuk menanyakan lowongan di perusahaannya, setiap orang yg kutemui pasti aku tanya tentang lowongan jika sudah bekerja. Lamaran sudah aku kirim via jobsreet ratusan kali, via kalibrr yg kebanyakan ditolak, via email sudah tak terhitung, tapi hanya beberapa yg memanggil untuk tes dan interview. Ya tidak masalah, harus tetap bersyukur.
Tidak hanya di Bandung. Aku juga sudah melakukan tes maupun interview di kota lain seperti Jakarta, Cimahi, Padalarang dll. Sempat ada dari semarang dan surabaya yg memanggil ku untuk tes tetapi tidak bisa aku laksanakan terkendala oleh ongkos transport yg terbilang mahal.
Dan , pada awalnya aku kekeh harus kerja sesuai dengan jurusanku seperti business analyst atau system analyst dan tidak mengharapkan menjadi programmer dan sales.
Tapi, semua berubah setelah negara api menyerang. Banyak kegagalan2 yg aku dapatkan dari hasil tes dan interview. Ada yg nge php in katanya akan dipanggil dalam 1 minggu tapi ternyata tidak, setelah interview tidak dikabarin lulus atau tidaknya dll. Dimana uang bulanan yg tidak bertambah tetapi pengeluaran meningkat dikarenakan uang transport ke luar kota tidak bisa terbilang murah. Aku stuck dengan keadaan uang tidak ada, minta ke orangtua malu, pengangguran, tidak bisa menghasilkan apa-apa, sehingga aku merasa tidak berguna. Ya, mengakhiri bulan 1 aku stres.
Tiba-tiba aku mendapat WA dari penguji ku waktu sidang dulu. Ia mengirimkan lowongan pekerjaan di perusahaan temannya. Dari sekian bulan tidak ada kontak lagi dengan dosen tersebut karena aku udah alumnus, ternyata bapak tersebut masih mengingat aku :') disitu terharu. Aku langsung memasukkan lamaran dan singkat cerita aku diterima. Posisinya apa? PROGRAMMER. Bidang yg aku tidak sukai. Aku mulai memotivasi diri sendiri bahwa aku harus bisa, aku bisa mempelajarinya dan aku pasti bisa! Memasuki hari percobaan, ya aku merasa aku ga bisa. Aku berhenti. Itulah pilihanku.
Aku terus memasukkan lamaran, tetapi pekerjaan yg dikehendaki Tuhan belum juga terlihat. Hingga aku menurunkan standard posisi yang ku inginkan. Aku mulai mencari pada posisi yg menerima semua jurusan seperti general affair, administrasi dll. Beberapa ada yg memanggil tetapi tidak sesuai dengan diriku. Aku bertahan pada posisi : aku menginginkan pekerjaan tapi tidak mau asal-asalan. Tapi aku juga harus kerja supaya tidak menjadi beban. Orang mengatakan untuk fresh graduated jangan pilih-pilih dulu tapi apakah iya dengan asal pilih pekerjaan pertama? Confused. Aku semakin stres.
Tiba-tiba aku jatuh sakit. Sakit yg belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku memang punya riwayat sakit yaitu maag tapi itu sudah tidak peenah kambuh lagi selama aku kuliah di Bandung. Tapi rasa sakit nya tidak seperti sakit maag. Rasanya lebih sakit lagi. Aku bingung harus gimana. Ditambah batuk juga. Yg membuatku merasa waswas karena sedang ada wabah virus corona juga yang mendunia, aku jadi mikir yg engga-engga. Sesak di dada yg ga bisa ku tahankan membuat jantung ku sakit sekali. Apa aku sakit jantung? Fikirku dalam hati. Aku sangat takut, aku takut ga bisa buka mata di pagi hari.
Selama seminggu aku berusaha sendiri tanpa pergi ke dokter untuk mengobatinya, aku fikir seiring berjalan nya waktu bakal sembuh sendiri tapi ternyata makin parah. Aku sudah ga kuat lagi. Aku menelepon mamaku. Tau apa responnya? Aku disuruh pulang ke sumatra. Tapi aku menenangkan mamaku dengan bilang aku bisa bwrobat disini, aku cuma belum periksa aja, dan belum tau ini sakit apa. Lalu besok nya aku pun periksa. Ternyata tau apa? Aku asam lambung. Ternyata maag sudah meningkat menjadi asam lambung. Maag yg tidak pernah kambuh meningkat menjadi asam lambung. Aku ga ngerti kenapa itu terjadi. Dokterpun bilang : kamu pasti stres. Dugaan doktee itu benar. Aku stres. Ternyata stres bisa membuat penyakit asam lambung semakin parah. Mulai dari situ keluargaku tidak lagi menekanku tentang masalah pekerjaan. Memang aku merasa tertekan tapi aku tidak menyangka akan membuat aku sakit. Mulai dari saat ini aku mengubah pola fikirku. Aku tidak mau mati cuma karna memikirkan tentang pekerjaan. Aku sudah berusaha biar Tuhan yg berkehendak.
Hingga pada suatu saat di akhir bulan 2 telepon ku berdering. Ternyata dari perusahaan yang dulu aku pernah tes sesudah aku wisuda dimana aku tidak mempersiapkan diri dalam tes tersebut. Dia bilang aku diterima di IT D*L dan akan mulai bekerja tgl 2 hari senin bulan maret 2020. Aku meminta waktu sehari untuk mempertimbangkannya. Dan atas dasar pertimbangan yg susah ku buat dengan orangtua aku tidak mengambilnya karena ada beberapa alasan. Salah satunya adalah jenjang karir dan pelayanan.
Setelahnya aku diam. Bingung apa yg harus aku lakukan lagi, tidak ada. Aku mulai merasa sedih, terpuruk, tidak berguna, down se down down nya dan tiba-tiba aku nangis. Aku meluapkan segala kesedihanku dengan menangis, aku berdoa sambil menangis. Air mataku tidak berhenti menangis seakan mengatakan : ayo keluarkan aja semuanya, kalau sedih ya menangislah. Ya, mengadu pada Tuhan. Aku mau meluapkan nya malam ini saja, biarkan aku menangis. Hingga aku merasa capek dan tertidur dalan tangisan.
Keesokan harinya setelah mengadu dengan berdoa kepada Tuhanku, aku merasa baikan. Aku merasa lebih lega, dan aku mulai melamar pekerjaan lagi. Aku tidak mau merasa stres lagi dan mulai menonton drama korea. Ya itu membuatku merasa senang.
Lalu tiba-tiba hp ku berdering. Ternyata dari perusahaan yg sudah lebih dari 2 minggu lalu aku psikotest meneleponku.
Aku di terima. Ya, aku diterima diperusahaan tersebut. Perusahaan yg pada awalnya aku harapkan menerimaku, proses perekrutannya dari awal kirim lamaran itu kurang lebih selama 3 bulan. Pada saat psikotes di katakan akan di beri kabar paling lama 2 minggu tapi kalau setelah 2 minggu tidak ada kabar maka akan dinyatakan tidak lolos. Tapi setelah lewat 2 minggu aku tidak di beri kabar. Aku kecewa dan mulai memotivasi diriku lagi untuk bangkit. Tapi ternyata kabar bahwa aku lulus itu lebih dari 2 minggu. Aku bahagia. Diakhir bulan 2 aku diterima kerja di posisi yg sesuai dengan ku. Tidak lepas aku dari bersyukur kepada Tuhan. KehendakNya nyata setiap hari. Dan semua indah pada waktuNya bukan pada waktunya kita. Tuhan mebgajarkan untuk menunggu yg terbaik akan datang dengar bersabar dan bekerja lebih kerjas lagi. Selalu andalkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup. Ya aku bersyukur untuk lika liku kehidupab dalam proses mencari pekerjaan ini. Tuhan mengajarkanku artinya bersyukur dan pantang menyerah.
Untuk teman-teman yang sedang berjuang sepertiku pada tahap jobseeker, percayalah yg terbaik sudah disediakan untukmu. Berdoa dan berusahalah. Sabar menunggu waktunya Tuhan.
Jeje
Komentar
Posting Komentar